PEMIMPIN DAN KAMMI

Indonesia dengan segala sumber dayanya adalah sebuah komunitas Negara-bangsa yang besar. Bangsa dengan penduduk lebih dari0 juta jiwa ini mempunyai potensi-potensi calon pemimpin yang bisa dikatakan banyak, pemimpin-pemimpin yang akan terlahir dari para pemuda dan mahasiswa karena merekalah harapan baru Indonesia sehingga pantaslah sebagai anak muda kita membentuk sebuah Forum Indonesia Muda. Sebab itulah saya secara pribadi mendukung forum ini dan semoga forum ini bisa memberikan kontribusi yang riil terhadap persoalan masyarakat, bangsa dan Negara. Berbicara tentang “aku untuk negeriku” berarti kita akan dihadapkan kepada kontribusi apa yang akan kita berikan untuk negeri Indonesia ini. Kontribusi mulai dari hal kecil sampai hal besar mulai dari tingkat desa hingga Negara bahkan dunia. Hal yang bagi saya menarik untuk kita elaborasi secara bersama-sama. Menarik ketika tema kajiannya adalah kepemimpinan, untuk itulah saya mencoba untuk mengkajinya dalam konteks lokal di kabupaten Banyumas karena saya kebetulan sedang mencoba berkontribusi untuk perbaikan kepemimpinan di Banyumas sembari mencari ilmu keteknikan di Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto. Banyak referensi terkait dengan bagaimana kepemimpinan yang baik itu, kita bisa melihat mulai dari sosok Rasululloh Muhammad hingga Soekarno.

Masalah kepemimpin menemukan ruangnya ketika event politik lima tahunan yaitu PILKADAL atau PEMILU bergulir. Salah satu cara secara prosedural untuk memilih calon-calon pemimpin kita -terutama di pemerintahan- yang akan mengelola bangsa dan Negara ini. Untuk itulah mari kita sebagai kaum muda harus berusaha mendorong calon-calon pemimpin kita agar lebih serius, lebih cerdas, lebih radikal lagi memperjuangkan nasib rakyat Indonesia. Rakyat sudah bosan dengan orang yang itu-itu saja dengan segala janji-janji politiknya. Mari kita sudahi kebobrokan bangsa ini dengan kontribusi kaum-kaum muda.

Banyumas adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah bagian selatan yang mempunyai Luas wilayah sekitar 1.327,60 km2 atau setara dengan 132.759,56 ha, dengan keadaan wilayah antara daratan & pegunungan dengan struktur pegunungan terdiri dari sebagian lembah Sungai Serayu untuk tanah pertanian, sebagian dataran tinggi untuk pemukiman & pekarangan, dan sebagian pegunungan untuk perkebunan dan hutan tropis yang terletak dilereng Gunung Slamet sebelah selatan. Di Banyumas terdapat sekitar 27 kecamatan dan 331 desa. Sebagai seorang aktivis gerakan mahasiswa ekstra kampus –Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia Daerah Purwokerto- kabupaten Banyumas mempunyai karakteristik tersendiri sebagai ladang amal dakwah KAMMI. Daerah yang cukup luas dengan sebuah entitas pendidikan yang ada yaitu Universitas Jenderal Soedirman.

Kepemimpinan biasanya terlahir dari kalangan yang mempunyai intelektual tinggi yang lahir dari rahim institusi pendidikan. Sejarah telah membuktikan bahwa barrack obama dan dimitry medvedev adalah almamater yang telah membuktikan kapasitas intelektualnya sehingga mereka terpilih menjadi pemimpin di Negaranya masing-masing. Masalah kepemimpinan adalah masalah yang substansial karena ibarat dokter ketika dokternya sakit bagaimana dia bisa menyembuhkan para pasiennya, ini adalah contoh ilustrasi begitu penting seorang pemimpin di negeri ini. Berbicara kepemimpinan kita akan berfikir seperti apa contoh ideal seorang pemimpin kita? terutama pemimpin yang duduk di pemerintahan dari tingkat kabupaten hingga tingkat pusat. Masih segar dalam ingatan kita betapa fenomenalnya Barack husein Obama, presiden Amerika Serikat termuda. Pelajaran yang dapat kita petik sebagai seorang pemuda adalah masalah kepemimpinan bukan masalah umur tapi masalah kapasitas dan kemampuan. Kapasitas yang dapat dilihat dari track recordnya dan kontribusinya. Tua-muda tidak masalah asalkan mempunyai kapasitas dan kemapuan mumpuni yang dibuktikan dengan rekam jejak yang baik. Seharusnya fakta ini mengispirasi masyakarakat Indonesia untuk memilih calon-calon pemimpin berdasarkan track recordnya.

Tapi sayang fenomena ini tidak membawa arus positifnya ke Indonesia. Untuk konteks lokal saja seperti Banyumas para calon pemimpin yang mempunyai track record baik belum menjadi pilihan rakyat ini terlihat dalam PILBUP 2008 kemarin. Rakyat lebih tertarik dengan imbalan-imbalan pragmatis dengan pemberikan uang lelah. Berarti ini menunjukkan ada yang salah pada bangsa ini entah itu rakyatnya ataukah pemimpinnya. Dua faktor ini menjadi hal yang penting ketika kita ingin menjadikan bangsa Indonesia besar. Besar secara tingkat kesejahteraan, besar secara moral dan besar secara tingkat peradabannya. Secara kontributif untuk tingkatan lokal KAMMDA Purwokerto telah memberikan pendidikan politiknya kepada masyarakat sekaligus secara kritis dan independen mengawal setiap tahapan PILBUP 2008 kemarin. Tetapi kita percaya bahwa tidak ada kata terlambat dan lelah untuk berjuang bersama demi kesejahteraan rakyat. Kita harus menatap ke depan bahwa persoalan kepemimpinan adalah persoalan yang harusnya menjadi perhatian kita selaku kaum muda. Momentum PEMILU 2009 sudah ada di depan mata, format gerakan harus sudah dirancang. Sebagai mahasiswa yang mempunyai aktivis keorganisasian alhamdulillah kemarin saya dan kawan-kawan di KAMMI Daerah Purwokerto telah menerbitkan Koran PEMILU “CONTRENG” kepada masyarakat (baca Suara Merdeka dan Radar Banyumas edisi 24 Maret 2009) yang berisi kritik dan saran terkait PEMILU yang telah berlangsung sehingga ke depan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai sekaligus harapannya masyarakat lebih cerdas dan bertanggung jawab dalam menentukkan wakil-wakil rakyatnya.

Tawaran-tawaran perbaikan kesejahteran harus sudah mulai dielaborasi oleh seluruh gerakan mahasiswa dalam forum apapun sehingga rakyat tidak kembali bersedih menatap masa depannya kelak. Program-program konkret sudah mulai KAMMI susun mulai dari memberikan pendidikan politik melalui media Koran PEMILU hingga rencana mengisi forum diskusi pada Radio Republik Indonesia di tingkat lokal di samping berbagai kegiatan-kegiatan diskusi yang sering kita lakukan. Dalam waktu dekat ini KAMMI Daerah Purwokerto punya ide menarik untuk mengatasi persoalan kepemimpinan dengan membentuk forum-forum diskusi secara internal dan eksternal di tingkatan universitas dan daerah dengan melibatkan stake holder gerakan pemuda dan mahasiswa di Banyumas.

Dari pemaparan di atas kita bisa mengambil benang merahnya bahwa persoalan kepemimpinan adalah persoalan yang substansial sekaligus menjadi persoalan kita bersama. Sejarah telah banyak berbicara terkait dengan bagaimana menjadi pemimpin yang progesif, bersih dan amanah dan telah menorehkan beberapa nama mulai dari Rasululloh Muhammad hingga Barack Obama. Akhirnya semoga sejarah kepemimpin bangsa Indonesia pada tingkatan lokal dan nasional berubah menjadi lebih baik tidak hanya secara prosedural namun juga secara substansial.

1 April 2009 at 4:38 pm 1 komentar

Kolom Beton Dalam Kontruksi Bangunan

KOLOM BETON DALAM BANGUNAN

I. Pendahuluan

Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka struktur yang memikul beban dari balok. Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang memegang peranan penting dari suatu bangunan, sehingga keruntuhan pada suatu kolom merupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya (collapse) lantai yang bersangkutan dan juga runtuh total (total collapse) seluruh struktur (Sudarmoko, 1996). SK SNI T-15-1991-03 mendefinisikan kolom adalah komponen struktur bangunan yang tugas utamanya menyangga beban aksial tekan vertikal dengan bagian tinggi yang tidak ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral terkecil. Fungsi kolom adalah sebagai penerus beban seluruh bangunan ke pondasi. Bila diumpamakan, kolom itu seperti rangka tubuh manusia yang memastikan sebuah bangunan berdiri. Kolom termasuk struktur utama untuk meneruskan berat bangunan dan beban lain seperti beban hidup (manusia dan barang-barang), serta beban hembusan angin. Kolom berfungsi sangat penting, agar bangunan tidak mudah roboh. Beban sebuah bangunan dimulai dari atap. Beban atap akan meneruskan beban yang diterimanya ke kolom. Seluruh beban yang diterima kolom didistribusikan ke permukaan tanah di bawahnya. Kesimpulannya, sebuah bangunan akan aman dari kerusakan bila besar  dan jenis pondasinya sesuai dengan perhitungan. Namun, kondisi tanah pun harus benar-benar sudah mampu menerima beban dari pondasi. Kolom menerima beban dan meneruskannya ke pondasi, karena itu pondasinya juga harus kuat, terutama untuk konstruksi rumah bertingkat, harus diperiksa kedalaman tanah kerasnya agar bila tanah ambles atau terjadi gempa tidak mudah roboh. Struktur dalam kolom dibuat dari besi dan beton. Keduanya merupakan gabungan antara material yang tahan tarikan dan tekanan. Besi adalah material yang tahan tarikan, sedangkan beton adalah material yang tahan tekanan. Gabungan kedua material ini dalam struktur beton memungkinkan kolom atau bagian struktural lain seperti sloof dan balok bisa menahan gaya tekan dan gaya tarik pada bangunan.

II. Jenis-jenis Kolom
Menurut Wang (1986) dan Ferguson (1986) jenis-jenis kolom ada tiga:
1. Kolom ikat (tie column)
2. Kolom spiral (spiral column)
3. Kolom komposit (composite column)
Dalam buku struktur beton bertulang (Istimawan dipohusodo, 1994) ada tiga jenis kolom beton bertulang yaitu :
1. Kolom menggunakan pengikat sengkang lateral. Kolom ini merupakan kolom brton yang ditulangi dengan batang tulangan pokok memanjang, yang pada jarak spasi tertentu diikat dengan pengikat sengkang ke arah lateral. Tulangan ini berfungsi untuk memegang tulangan pokok memanjang agar tetap kokoh pada tempatnya. Terlihat dalam gambar 1.(a).
2. Kolom menggunakan pengikat spiral. Bentuknya sama dengan yang pertama hanya saja sebagai pengikat tulangan pokok memanjang adalah tulangan spiral yang dililitkan keliling membentuk heliks menerus di sepanjang kolom. Fungsi dari tulangan spiral adalah memberi kemampuan kolom untuk menyerap deformasi cukup besar sebelum runtuh, sehingga mampu mencegah terjadinya kehancuran seluruh struktur sebelum proses redistribusi momen dan tegangan terwujud. Seperti pada gambar 1.(b).

3. Struktur kolom komposit seperti tampak pada gambar 1.(c). Merupakan komponen struktur tekan yang diperkuat pada arah memanjang dengan gelagar baja profil atau pipa, dengan atau tanpa diberi batang tulangan pokok memanjang.

Graphic4

Hasil berbagai eksperimen menunjukkan bahwa kolom berpengikat spiral ternyata lebih tangguh daripada yang menggunakan tulangan sengkang, seperti yang terlihat pada diagram di bawah ini.Graphic6

Untuk kolom pada bangunan sederhan bentuk kolom ada dua jenis yaitu kolom utama dan kolom praktis.

Kolom Utama
Yang dimaksud dengan kolom utama adalah kolom yang fungsi utamanya menyanggah beban utama yang berada diatasnya. Untuk rumah tinggal disarankan jarak kolom utama adalah 3.5 m, agar dimensi balok untuk menompang lantai tidak tidak begitu besar, dan apabila jarak antara kolom dibuat lebih dari 3.5 meter, maka struktur bangunan harus dihitung. Sedangkan dimensi kolom utama untuk bangunan rumah tinggal lantai 2 biasanya dipakai ukuran 20/20, dengan tulangan pokok 8d12mm, dan begel d 8-10cm ( 8 d 12 maksudnya jumlah besi beton diameter 12mm 8 buah, 8 – 10 cm maksudnya begel diameter 8 dengan jarak 10 cm).

KOLOMTINGKAT

Kolom Praktis
Adalah kolom yang berpungsi membantu kolom utama dan juga sebagai pengikat dinding agar dinding stabil, jarak kolom maksimum 3,5 meter, atau pada pertemuan pasangan bata, (sudut-sudut). Dimensi kolom praktis 15/15 dengan tulangan beton 4 d 10 begel d 8-20.

KOLOMPRAKTIS

Letak kolom dalam konstruksi. Kolom portal harus dibuat terus menerus dari lantai bawah sampai lantai atas, artinya letak kolom-kolom portal tidak boleh digeser pada tiap lantai, karena hal ini akan menghilangkan sifat kekakuan dari struktur rangka portalnya. Jadi harus dihindarkan denah kolom portal yang tidak sama untuk tiap-tiap lapis lantai. Ukuran kolom makin ke atas boleh makin kecil, sesuai dengan beban bangunan yang didukungnya makin ke atas juga makin kecil. Perubahan dimensi kolom harus dilakukan pada lapis lantai, agar pada suatu lajur kolom mempunyai kekakuan yang sama. Prinsip penerusan gaya pada kolom pondasi adalah balok portal merangkai kolom-kolom menjadi satu kesatuan. Balok menerima seluruh beban dari plat lantai dan meneruskan ke kolom-kolom pendukung. Hubungan balok dan kolom adalah jepit-jepit, yaitu suatu sistem dukungan yang dapat menahan momen, gaya vertikal dan gaya horisontal. Untuk menambah kekakuan balok, di bagian  pangkal pada pertemuan dengan kolom, boleh  ditambah tebalnya.
III. Dasar- dasar Perhitungan
Menurut SNI-03-2847-2002 ada empat ketentuen terkait perhitungan kolom:
1. Kolom harus direncanakan untuk memikul beban aksial terfaktor yang bekerja pada semua lantai atau atap dan momen maksimum yang berasal dari beban terfaktor pada satu bentang terdekat dari lantai atau atap yang ditinjau. Kombinasi pembebanan yang menghasilkan rasio maksimum dari momen terhadap beban aksial juga harus diperhitungkan.
2. Pada konstruksi rangka atau struktur menerus pengaruh dari adanya beban tak seimbang pada lantai atau atap terhadap kolom luar atau dalam harus diperhitungkan. Demilkian pula pengaruh dari beban eksentris karena sebab lainnya juga harus diperhitungkan.
3. Dalam menghitung momen akibat beban gravitasi yang bekerja pada kolom, ujung-ujung terjauh kolom dapat dianggap jepit, selama ujung-ujung tersebut menyatu (monolit) dengan komponen struktur lainnya.
4. Momen-momen yang bekerja pada setiap level lantai atau atap harus didistribusikan pada kolom di atas dan di bawah lantai tersebut berdasarkan kekakuan relative kolom dengan juga memperhatikan kondisi kekekangan pada ujung kolom.
Adapun dasar-dasar perhitungannya sebagai berikut:

1. Kuat perlu

2. Kuat rancang

No. Kondisi Faktor reduksi (ø)
1. Lentur tanpa beban aksial 0.8
2. Aksial tarik dan aksial tarik dengan lentur 0.8
3. Aksial tekan dan aksial tekan dengan lentur
a. Tulangan spiral maupun sengkang ikat
b. Sengkang biasa: 0.7, 0.65

Asumsi Perencanaan

Graphic3

Referensi:
Sumber buku
Anonim. 2002. Standar Nasional Indonesia Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. Bandung: Beta Version.
Dipohusodo, istimawan.1994. Struktur Beton Bertulang. Jakarta: Gramedia pustaka utama.
Pamudji, Ganjar, dkk. 2004. Diktat Kuliah Struktur Beton II Universitas Jenderal Soedirman.

Sumber internet
http://www.pennridge.org/works/beamstruct.htm
http://struktur-rumah.blogspot.com/2008/07/kolom-beton-utama-praktis.html
http://probohindarto.wordpress.com

14 Juli 2009 at 12:08 am Tinggalkan komentar

FIQH PRIORITAS(YUSUF QORDHOWI)

FIQH PRIORITAS by Dr. Yusuf Qardhawi¥1

Dr. Yusuf Qardhawi menyatakan salah satu fiqh yang cukup penting pada saat sekarang ini adalah bagaimana menempatkan segala sesuatu baik hak dan kewajiban pada peringkatnya yang adil, dari segi hukum, nilai dan pelaksanaan sesuai dengan kaidah yang syar’i. Fiqh urutan pekerjaan (fiqh maratib al-a’mal) atau yang sekarang lebih familiar dengan istilah fiqh prioritas (fiqh al-awlawiyyat) menggambarkan tentang kaidah-kaidah dalam melaksanakan segala sesuatu yang paling utama hingga yang sangat biasa.
Dasarnya ialah bahwa sesungguhnya nilai, hukum, pelaksanaan, dan pemberian beban kewajiban menurut pandangan agama ialah berbeda-beda satu dengan lainnya. Semuanya tidak berada pada satu tingkat. Ada yang besar dan ada pula yang kecil; ada yang pokok dan ada pula yang cabang; ada yang berbentuk rukun dan ada pula yang hanya sekadar pelengkap; ada persoalan yang menduduki tempat utama (esensi) tetapi ada pula yang hanya merupakan persoalan pinggiran; ada yang tinggi dan ada yang rendah; serta ada yang utama dan ada pula yang tidak utama. Persoalan seperti itu telah dijelaskan di dalam nas al-Qur’an, sebagaimana difirmankan Allah SWT:

“Apakah orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan ibadah haji dan mengurus Masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum Muslim yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (at-Taubah, 19-20)

Ilustrasi lainnya bisa kita lihat sebagai berikut:

“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian; dengan kelebihan sebanyak dua puluh tujuh tingkatan.”
“Berjaga dalam jihad selama sehari semalam adalah lebih baik daripada berpuasa dan qiyamul-lail selama sebulan.”
“Sesungguhnya keikutsertaan salah seorang dari kamu dalam jihad di jalan Allah adalah lebih baik daripada shalat yang dilakukan olehnya di rumahnya selama tujuh puluh tahun.”

Begitulah kita menemukan bahwa manusia berbeda satu dengan lainnya, dan mereka memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lainnya. Amal perbuatan mereka berbeda dan yang membedakan kedudukan mereka satu sama lainnya ialah ilmu, amal, ketaqwaan, dan perjuangannya.

PERTIMBANGAN ANTARA BERBAGAI KEMASLAHATAN SATU DENGAN LAINNYA

Dalam memberikan pertimbangan terhadap berbagai kepentingan tersebut, kita dapat mempergunakan kaidah berikut ini:
Mendahulukan kepentingan yang sudah pasti atas kepentingan yang baru diduga adanya, atau masih diragukan.
Mendahulukan kepentingan yang besar atas kepentingan yang kecil.
Mendahulukan kepentingan sosial atas kepentingan individual.
Mendahulukan kepentingan yang banyak atas kepentingan yang sedikit.
Mendahulukan kepentingan yang berkesinambungan atas kepentingan yang sementara dan insidental.
Mendahulukan kepentingan inti dan fundamental atas kepetingan yang bersifat formalitas dan tidak penting.
Mendahulukan kepentingan masa depan yang kuat atas kepentingan kekinian yang lemah.

Pada Perjanjian Perdamaian Hudaibiyah, kita dapat melihat Nabi saw yang mulia memenangkan kepentingan inti dan fundamental, serta kepentingan masa depan atas kepentingan yang bersifat
formalitas dan tidak penting, yang seringkali menipu manusia. Rasulullah saw menerima syarat-syarat yang pada awalnya diduga bahwa penerimaan itu tidak adil bagi kaum Muslim, sehingga
mereka harus menerima bagian yang kurang. Pada saat itu baginda Nabi saw yang mulia menerima permintaan orang kafir untuk menghapuskan “basmalah” yang tertulis pada lembar perjanjian, dan sebagai gantinya ditulislah “bismika allahumma.” Selain itu, beliau juga merelakan untuk menghapuskan sifat kerasulan yang tertulis setelah nama Nabi saw yang mulia “Muhammad Rasulullah” dan cukup hanya dengan menuliskan nama beliau saja “Muhammad bin Abdullah”. Semua itu dilakukan oleh Rasulullah saw untuk mendapatkan ketenangan dan perdamaian di balik itu, sehingga memungkinkannya untuk menyiarkan da’wah Islam, dan mengajak raja-raja di dunia ini untuk memeluk Islam. Tidak diragukan lagi bahwa tindakan Rasulullah saw itu disebut di dalam al-Qur’an al-Karim dengan istilah kemenangan yang nyata (fath mubin).

PERTIMBANGAN ANTARA KERUSAKAN DAN MADHARAT YANG SATU DENGAN LAINNYA

Volume, intensitas, dan bahaya yang ditimbulkan oleh kerusakan dan madharat itu berbeda-beda tingkatannya. Atas dasar inilah, para fuqaha menetapkan sejumlah kaidah yang baku mengenai hukum yang penting; antara lain.
“Tidak ada bahaya dan tidak boleh membahayakan.”
“Suatu bahaya sedapat mungkin harus disingkirkan.”
“Suatu bahaya tidak boleh disingkirkan dengan bahaya yang
sepadan atau yang lebih besar.”
“Bahaya yang lebih ringan, dibandingkan dengan bahaya
lainnya yang mesti dipilih, boleh dilakukan”
“Bahaya yang lebih ringan boleh dilakukan untuk menolak
bahaya yang lebih besar.”
“Bahaya yang bersifat khusus boleh dilakukan untuk
menolak bahaya yang sifatnya lebih luas dan umum.”

PERTIMBANGAN ANTARA MASLAHAT DAN KERUSAKAN APABILA KEDUA HAL YANG BERTENTANGAN INI BERTEMU

Kalau misalnya kerusakannya dirasakan lebih banyak dan lebih berat dalam suatu perkara dibandingkan dengan manfaat yang terkandung di dalamnya, maka perkara seperti ini mesti dicegah, karena kerusakan lebih banyak, kita terpaksa mengabaikan sedikit manfaat yang terkandung di dalamnya. Keputusan ini didasarkan kepada apa yang dikatakan oleh al-Qur’an al-Karim sehubungan dengan hukum khamar dan berjudi ketika dia memberikan jawaban terhadap orang-orang yang bertanya mengenai kedua hal itu:
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar danpada manfaatnya.” (al-Baqarah: 219)

Adapun kaidah-kaidah prioritasnya sebagai berikut:
“Kerusakan yang kecil diampuni untuk memperoleh, kemaslahatan yang lebih besar.”
“Kerusakan yang bersifat sementara diampuni demi kemaslahatan yang sifatnya berkesinambungan.”
“Kemaslahatan yang sudah pasti tidak boleh ditinggalkan karena ada kerusakan yang baru diduga adanya.”

13 Mei 2009 at 3:12 pm Tinggalkan komentar

pendidikan di Banyumas

<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

REFLEKSI HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Oleh: Arrizka Yanuar

Baru-baru ini tepatnya malam 1 mei 2009 MENDIKNAS, Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA menyampaikan pidato hari pendidikan nasional, ritual yang sudah biasa kita dengar. Hari Pendidikan Nasional memang biasa kita peringati setiap tanggal 2 Mei dimana tanggal tersebut Ki Hajar Dewantoro, dan kawan-kawan berjasa dalam meletakkan pondasi awal pendidikan bangsa Indonesia. MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA adalah salah satu tujuan mulia Negara Kesatuan Republik Indonesia ini yang tertuang dalam PEMBUKAAN UUD 1945 alinea ke-4 inipun diperkuat lagi dalam pasal 31 UUD 1945 ayat 1-5.

Pendidikan adalah kebutuhan dasar kita (primary needed) dimana dengan pendidikan ini bangsa Jepang yang dahulu porak poranda pada Perang Dunia II kini bangkit dan menjadi bangsa yang maju dan besar pada hari ini. Tapi kemudian apa yang terjadi pada sistem pendidikan di tanah air kita saat ini? Secara realitas memang implementasi pendidikan yang tertuang dalam konstitusi tertinggi kita memang belum tercapai secara sempurna sisi-sisi anggaran, infrastruktur fisik, aksesibilitas sepertinya belum menjadi kabar baik untuk sistem pendidikan di negeri ini. Ukurannya adalah berapa persentasi anggaran pendidikan hari ini?sudahkah 20%? Di Banyumas misalnya anggaran pendidikan yang dialokasikan pada APBD 2009 hanya sekitar 12% ini dihitung tanpa gaji guru. Lalu berikutnya infrastruktur fisik, berapa puluh bangunan gedung sekolah dari SD s/d SMA yang tidak layak dan hampir roboh di setiap Kabupaten? Yang terakhir, berapa banyak orang-orang miskin yang mampu bersekolah sampai taraf SMA bahkan Perguruan Tinggi?

PENDIDIKAN…!ini tanggung jawab siapa??

Menurut UUD 1945 pasal 31 ayat (4) tentang anggaran pendidikan 20% disana jelas bahwa Negara dalam ini pemerintah menjadi aktor utama dalam implementasinya. Namun saat ini sudahkah anggaran pendidikan kita 20%, klaim pemerintah pada APBN 2009 anggaran pendidikan kita sudah 20%. Terkesan agak mengherankan memang, bukan menyoal anggaran yang sudah 20%nya tapi kenapa baru sekarang. Ini menurut kacamata politik terkesan sangat pragmatis, karena tahun 2009 adalah tahun PEMILU yang akan memilih para calon pemimpin bangsa tak terkecuali penguasa rezim saat ini yaitu SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Hal ini bisa jadi menjadi strategi SBY untuk memikat rakyat, sepertinya isyarat pendahuluan sudah jelas di berbagai polling SBY memiliki elektabilitas yang lebih tinggi dibanding calon-calon yang lain. Wacana pendidikan memang menjadi isu yang cukup menarik dan cukup menjual, makanya sekarang pemerintah SBY lewat MENDIKNASnya sedang menggembargemborkan “sekolah gratis, bisaa.” Program ini hanya untuk WAJAR 9 tahun dari Sekolah Dasar s/d Sekolah Menengah Pertama, wow program yang menggiurkan, bukan!!

Dari sisi infrastruktur fisik, banyak bangunan sekolah yang tidak layak dan hampir roboh disetiap Kabupatennya. Hal ini terlihat di salah satu SMK yang ada di Banyumas ketika UAN dilaksanakan para siswa harus legowo berada di bangunan yang sudah mulai rusak atap-atap ruang kelasnya. Bagaimana pendidikan bisa mencetak SDM yang kompeten fasilitas pendukungnya saja masih memprihatinkan. Masalah pendidikan sangat berbanding terbalik dengan kesehatan dimana dari hari ke hari semakin baik. Perbaikan infrastruktur seakan luput dari prioritas pemerintah pusat dan daerah padahal alokasi anggaran melimpah akhirnya rakyatlah yang menjadi korban. Disinilah peran masyarakat dituntut agar lebih kritis dalam menyikapi segala permasalahan pendidikan.

Adapun terkait dengan aksesibilitas sebagian rakyat Indonesia mengenai pendidikan juga cukup mempunyai catatan buruk. Orang-orang miskin telah menjadi kaum marjinal dan terpinggirkan. Mereka tidak seperti layaknya para bos-bos besar yang bisa menyekolahkan anak-anaknya ke SMA favorit bahkan ke Perguruan Tinggi. Masyarakat golongan bawah (wong cilik) harus gigit jari dengan kondisi pendidikan hari ini. Ada dikotomi antara si miskin dan si kaya, mahalnya biaya untuk bersekolah ke SMA dan Perguruan Tinggi menjadi masalah utama mereka. Contoh nyata mahalnya pendidikan pada taraf SMA bisa kita lihat di SMAN 1 Purwokerto. SMA ini tiap pendaftaran siswa baru selalu mengisyaratkan uang pembangunan yang jumlahnya berjuta-juta rupiah per-anaknya, makanya sekarang kita jarang melihat anak-anak SMA yang menggunakan sepeda ketika berangkat sekolah. Belum lagi ketika kita menilik aksesibilitas masyarakat terkait dengan Perguruan Tinggi, akses ini masih terbatas pada golongan menengah ke atas. “Kaum Proletar dilarang masuk” ini mungkin kata kiasan yang bisa menggambarkan betapa selangitnya biaya yang dikeluarkan untuk menjadi pintar sehingga program-program beasiswa harus senantiasa dimonitoring agar tepat sasaran. Apalagi DPR telah mengesahkan UU BHP yang menjadi payung Perguruan Tinggi untuk mencari income mandiri. “Elitisme pendidikan” menjadi istilah yang cocok untuk sistem pendidikan kita.

Akhirnya layaknya perahu haruslah selalu terkembang layarnya, ibarat umur semakin tahun semakin matang. Waktu terus berjalan dan Indonesia pun harus banyak mengintrospeksi diri. Pendidikan bukan barang mahal dan terbatas, tapi barang yang murah dan merakyat. Selamat Hari Pendidikan Nasional, Majulah terus Indonesiaku semoga engkau tetap menjadi harapanku.

2 Mei 2009 at 11:49 pm 1 komentar

PELAYANAN PUBLIK DI BANYUMAS : POSISI DAN PERAN BIROKRASI DALAM MEWUJUDKAN GOOD GOVERNANCE DI ERA OTONOMI DAERAH.

I. PENDAHULUAN

Di akhir Abad 20 dan dalam dekade-dekade awal Abad 21, Indonesia menghadapi tantangan-tantangan berat di segala bidang; krisis multi dimensi, ancaman disintegrasi, dan keterpurukan ekonomi. Indikator-indikator pembangunan menunjukan bahwa posisi Indonesia berada dalam kelompok terendah dalam peta kemajuan pembangunan bangsa-bangsa, baik dilihat dari indeks pembangunan manusia, ketahanan ekonomi, struktur industri, perkembangan pertanian, sistem hukum dan peradilan, penyelenggaraan clean government, dan penyelenggaraan good governance baik pada sektor publik mau pun bisnis. Pelayanan publik adalah segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan publik dan pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan. (lebih…)

1 April 2009 at 4:44 pm

PETA POLITIK BANYUMAS 2009

Banyumas adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah bagian selatan yang mempunyai Luas wilayah sekitar 1.327,60 km2 atau setara dengan 132.759,56 ha, dengan keadaan wilayah antara daratan & pegunungan dengan struktur pegunungan terdiri dari sebagian lembah Sungai Serayu untuk tanah pertanian, sebagian dataran tinggi untuk pemukiman & pekarangan, dan sebagian pegunungan untuk perkebunan dan hutan tropis terletak dilereng Gunung Slamet sebelah selatan. Terdapat sekitar 27 kecamatan dan 331 desa dan Banyumas juga berbatasan dengan kabupaten-kabupaten lain seperti:
Sebelah Utara : Gunung Slamet, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang.
Sebelah Selatan : Kabupaten Cilacap
Sebelah Barat : Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Brebes
Sebelah Timur : Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Kebumen dan Kabupaten
Banjarnegara
Kabupaten Banyumas mempunyai daya tarik tersendiri bagi partai politik dan calon anggota dewan karena jumlah penduduknya yang cukup padat. Hal ini dapat dilihat dari data KPUD Banyumas tentang Daftar Pemilih Terdaftar Tetap (DPT) tahun 2009 sejumlah 1.271.976 orang dengan jumlah pemilih laki-laki sejumlah 634.513 orang dan pemilih peempuan 637.463 orang. Kalau jumlah suara ini bisa optimal dan sedikit orang yang tidak memilih ini menjadi target operasi tersendiri dari banyak partai politik dan calon anggota dewan. Jumlah ini jelas meningkat dari PEMILU 2004 yang hanya sejumlah 851.996 orang yang memilih. Semua calon anggota legislatif dari mulai DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD kabupaten daerah pemilih Banyumas akan bersaing mendapatkan 1.271.976 suara rakyat Banyumas pada 9 April mendatang. Untuk konteks kabupaten jelas angka ini harus senantiasa diingat-ingat oleh calon anggota legislatif DPRD Banyumas. Di Banyumas terdapat lima daerah pemilihan masing-masing adalah Dapil 1 (lumbir, wangon, ajibarang, gumelar, pekuncen) dengan jumlah pemilih sebesar 273.045 orang, Dapil 2 (jatilawang, rawalo, kebasen, patikraja, purwojati) dengan jumlah pemilih 208.006 orang, Dapil 3 (cilongok, karanglewas, kedungbanteng, baturraden, sumbang) dengan jumlah pemilih 263.950 orang, Dapil 4 (kembaran, sokaraja, purwokerto utara, purwokerto selatan, purwokerto barat, purwokerto timur) dengan jumlah pemilih 285.693 orang, dan yang terakhir Dapil 5 (kemrajen, sumpiuh, tambak, somagede, kalibagor, banyumas) dengan jumlah pemilih sebanyak 241.282 orang.
Menilik dari PEMILU 2004 dimana dari jumlah 45 kursi DPRD Banyumas masing-masing partai mempunyai distribusi suara yang tercermin pada jumlah kursi anggota legislatif seperti PDIP mendapat 35.56% kursi, GOLKAR mendapat 17.78%, lalu PKB juga mendapat 17.78%, PAN mendapat 11.11%, PD mendapat 8.89%, PPP mendapat 6.67% dan sisanya terbagi ke partai-partai lainnya ini sedikit menggambarkan peta kekuatan politik banyumas didominasi partai-partai lama. Tapi seiring berjalannya waktu terjadi konstelasi politik yang sangat dinamis apalagi setelah PILBUP Banyumas dan PILGUB JAWA TENGAH kemarin, peta politik menjadi berubah khususnya di Banyumas ini terlihat dari hasil PILBUP 2008 dimana calon bupati yang diusung PKB mengungguli calon-calon yang lain padahal dilihat dari hasil PEMILU 2004 PKB hanya memiliki 17.78% kursi di bawah PDIP dengan 35.56% artinya masyarakat Banyumas termasuk pemilih yang rasional dan tidak fanatik terhadap partai politik apalagi dengan melihat kinerja para anggota dewan saat ini khususnya di DPRD Banyumas mempertegas tidak ada relevansi keloyalitas pemilih. Dari lima daerah pemilihan di Banyumas semua memilki karakter pemilih yang berbeda yang harus dicermati oleh calon anggota dewan. Daerah pemilihan 4 yang paling banyak jumlah pemilihnya menjadi lahan kompetisi strategis bagi para calon anggota dewan, apalagi dengan peraturan baru dimana suara terbanyak yang menjadi prioritas. Tantangan berikutnya adalah banyaknya partai politik peserta PEMILU 2009, khusus di Banyumas saja terdapat 34 partai politik berarti sekitar 1.271.976 suara rakyat Banyumas akan diperebutkan oleh 34 partai politik dan ratusan calon anggota dewan. Ini jelas menuntut partai politik harus segera berbenah menjelang pesta demokrasi 9 april mendatang jika ingin optimal mendapat simpatik rakyat. Rakyat sudah bosan dengan janji-janji kosong para politisi yang cenderung kurang memikirkan rakyat dan hanya mementingkan kepentingan golongan atau individu. Kejelasan visi dan komitmen untuk mengabdi kepada rakyat menjadi unsur yang harus dimiliki oleh para partai politik dan calon anggota legislatif. Dikotomi partai nasional dan religius menjadi tidak relevan ketika dua unsur tadi tidak terpenuhi, saat ini rakyat sudah cenderung rasional melihat partai politik yang ada mereka lebih melihat perbaikan apa yang akan didapatkan ketimbang fanatik ke salah satu partai politik. Dalam teori komunikasi politik paling tidak ada tiga faktor menentukan dalam memenangkan kompetisi PEMILU 2009 ini yaitu faktor figur atau tokoh, wacana atau program yang dibawa dan efektifitas mesin politik. Ketiga faktor ini harus diperhatikan jikalau ingin optimal memperoleh suara.
Untuk itulah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Daerah Purwokerto sebagai elemen tak terpisahkan dari masyarakat Banyumas mengambil peran untuk memberikan pendidikan politik kepada masyarakat banyumas khususnya pemilih muda untuk cerdas dalam menentukan calon anggota dewan lima tahun mendatang. KAMMI Daerah Purwokerto tegas menolak segala bentuk kecurangan dalam PEMILU 2009 ini dan akan mengawal jalannya pesta demokrasi ini secara optimal. Semoga harapan kita semua bahwa pesta demokrasi ini berjalan dengan damai, lancer dan memberikan perbaikan yang optimal bagi rakyat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Banyumas pada khususnya. Ingat PEMILU 2009 HARUS BEDA!!! PEMILIH CERDAS RAKYAT SEJAHTERA.

1 April 2009 at 4:15 pm 1 komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

24 Maret 2009 at 11:29 pm 1 komentar


Oktober 2016
S S R K J S M
« Jul    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Blog Stats

  • 68,739 Yang Liat

TAUJIH HARI INI

"Sebaik baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya"

Gambar saya

KAMMI

Arsip Tulisan Saya